Senin, 28 Mei 2012

Ulang Tahun Kantor, Belajar Bisnis

Perayaan ulang tahun yang ke-32 Perpustakaan Nasional RI baru saja berakhir. Rangkaian kegiatan dilakukan sejak 12 Mei lalu, berupa pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan kemudian “ditutup” oleh pembagian door price pada 25 Mei kemarin. Hampir sebulan ini kantor kami ramai oleh banyaknya kegiatan, perlombaan antar-Deputi, mulai dari pertandingan futsal hingga lomba paduan suara. (http://kelembagaan.pnri.go.id/beranda/agenda/http://www.facebook.com/ayokeperpusnasKami seperti sekolah yang sedang menyelenggarakan class meeting.


Kemeriahan puncak perayaan berlangsung hampir seminggu penuh, yaitu di seminggu terakhir ini. Ada pemutaran film, diskusi, talk show dengan duta baca Perpusnas yang baru, Kick Andy, dan kegiatan menarik lainnya. Secara pribadi, saya sangat senang dengan kemeriahan ini, saya cukup menikmatinya. Seminggu ini kantor tampak sangat berwarna, hidup saya juga. Saya mungkin memang tidak terlibat langsung dengan bermacam-macam kegiatan tersebut. Saya hanya semacam penonton dan penikmat, tapi itu pun sudah cukup. Ada sesuatu yang barulah, yang terpenting, lepas sejenak dari rutinitas dan pekerjaan yang monoton.


Adapun yang menarik dari perayaan ulang tahun-an ini, buat saya, adalah sekelumit kisah tentang pengalaman pertama saya membuka lapak di bazar alias jualan. Inilah yang menarik dari semingguan ini, bikin hari-hari saya menjadi lebih berwarna, lelah, tapi seru. Bazar yang berlangsung selama 4 hari itu membuat saya seakan merasakan apa yang para pedagang rasakan. Gila, jadi pedagang itu susah.. lelah! Saya jadi salut sama mereka.


Hari pertama. Saya (harus) bangun lebih pagi dari biasanya. Enggak tahu kenapa, naluri pedagang aja kali ya.. Lalu, saya pun mandi lebih pagi dari biasanya dan ke kantor lebih pagi dari biasanya juga dan dari kebanyakan orang, rekan-rekan saya di kantor. Hari pertama, saya datang jam 7 lebih. Berhubung barang dagangan yang saya jual adalah makanan, yaitu nugget made in Mama Ken, mamanya murid saya, maka pagi itu saya sudah sibuk memindah-mindahkan bungkusan nugget ke dalam freezer kantor. Lalu, ketika makanan lainnya yang akan saya jual, yaitu macaroni schotel dan klappertaart tiba diantar oleh kurir toko kuenya, saya pun turun ke meja bazar yang sebelumnya sudah saya cek dahulu posisinya di mana. Setelah saya simpan kue-kue saya di situ, saya lalu ke atas lagi untuk mengambil nugget-nugget saya yang kemudian disimpan di cool box. Hari itu saya ribet banget. Untung dua sahabat saya, seperti biasa, Cia dan Indun dengan ringan hati mau membantu, sehingga urusan hari pertama itu berjalan lancar. Teman semeja bazar saya hari itu datang telat. Namun, secara keseluruhan, hari pertama bazar bisa dikatakan berhasil. Dagangan saya laris manis. Sore itu sepulang bazar, saya dan teman semeja bazar saya pergi ke tukang es puter untuk memesan sekaleng es yang akan kami jual esok harinya.


Hari kedua. Entah kenapa, pagi itu saya enggak mood. Saya tetap bangun pagi seperti kemarin, tapi rasa bangunnya di hari kedua ini berbeda dengan di hari pertama. Kalau kemarin saya merasa bersemangat walau lelah, di hari kedua ini, saya malas sekali dan bangun pagi dengan perasaan terpaksa. Entahlah kenapa. Meskipun begitu, saya tetap ke kantor pagi-pagi.


Usai merapikan meja bazar, saya ke atas, ke ruang kerja saya. Seperti biasa, saya merapikan nugget-nugget yang akan dijual yang semalamnya menginap di freezer kantor. Menariknya dari nasib dagangan saya yang satu ini, dia mujur. Belum juga saya turun ke bazar, dua orang ibu di ruangan membeli nugget saya. Tinggal 3 bungkus yang tersisa, dan itu pun bukan nugget, melainkan ayam mawar, yaitu bagian paha ayam yang diisi dengan soun dan jamur.


Setelah beres, saya pun turun. Teman semeja bazar saya menelepon untuk bertemu di depan kantor. Dia adalah seorang ibu muda yang tengah hamil 6 bulan dan hari itu dia membawa anak lelakinya yang berusia 9 bulan ke kantor karena pengasuhnya sedang kena cacar dan minta balik ke kampung. Dia membutuhkan bantuan saya. Saya pun membantunya. Demi tuhan, anaknya lucu banget.


Hari itu, stan kami ramai sekali, oleh barang-barang dagangan teman saya, kardus-kardus kue saya, dan perlengkapan bayi termasuk kereta bayinya. Siang itu panas sekali dan saya harus mengambil pesanan es puter kemarin di tempatnya. Iya, sayang memang, pesanan kami tidak menyediakan delivery. Alhasil, saya pun harus mengambilnya ke sana. Syukurlah, masa-masa kritis itu akhirnya terlalui juga dan kami resmi menjual es puter.


Singkat cerita, kue dagangan saya yang saya pesan-antar dari toko kue yang isinya klappertaart semua (tidak ada macaroni schotel), belum sampai 5 jam, sudah tak bisa dimakan alias asam alias basi. Anehnya, itu di beberapa jenis saja, sedangkan jenis lain masih bisa dimakan sampai magrib (kebetulan teman saya beli dua, satu basi, satu enak). Mengetahui bahwa kue-kuenya sudah tidak layak makan dan tidak layak jual tentu saja, langsung saya buang. Masih tersisa beberapa, dan untungnya beberapa pembeli melakukan transaksi di pagi hari ketika kue itu baru datang. Mudah-mudahan mereka telah menghabiskannya sebelum kue itu menjadi basi (amin). Saya menelepon tokonya dan pihaknya bilang akan mengganti kue yang rusak, tapi saya tidak yakin akan memesan kue itu lagi. Maka, di sisi ini, saya rugi.


Kerugian lainnya datang dari sisi penjualan es puter. Dari 100 cup yang kami pesan, es puter kami hanya terjual seperempatnya. Ketika saya angkat wadah esnya dari tempatnya, saya dibuat takjub dan bingung. Kaleng es ini begitu panjang, es puter di dalamnya masih sangat banyak, sementara kami tidak yakin ada freezer di kantor yang bisa memuat wadah ini. Ide untuk memindahkan es puter itu ke beberapa wadah kecil supaya bisa muat dimasukkan ke freezer memang ada, tapi wadah apa, wadah mana, kami tak punya?!


Di tengah kebingungan itu dan mental saya yang telah jatuh atas nasib kue-kue tadi, otak saya sudah tak mampu diajak berpikir lagi sehingga yang terlintas hanyalah membagikan es puter itu ke orang-orang. Teman semeja bazar saya juga setuju karena terus terang, kami sudah merasa sangat lelah sore itu dan buntu. Maka, penghujung hari kedua itu diwarnai dengan pemandangan antrian orang-orang di stand bazar kami. Ada pegawai, Satpam, para OB dan OG kantor, dan sesama pedagang bazar. Sebagian dari mereka berdiri rapi sambil membawa gelas, cangkir, maupun kotak makan untuk diisi es. Sementara itu, saya dengan sigap
menyerut satu demi satu sendokan es dan mengisinya ke wadah-wadah mereka. Saya tidak bisa berpikir. Namun, yang jelas, saya merasa lega. Masalah saat itu telah selesai. Solusinya adalah membagikan es puter sisa kepada orang-orang.


Saya pulang ke kosan dengan keadaan lelah dan galau (eaaa.. ). Hari itu saya rugi. Yang saya butuhkan saat itu adalah melupakannya. Lupa. Saya ingin istirahat benar.


Hari ketiga.
Hari keempat.


Hahaha. Dua hari terakhir bazar itu saya tidak jualan. Saya capek, kapok. Saya ingin santai-santai saja, bermain-main dengan anak teman semeja bazar saya yang lucu. Kalau mau jualan, sebenarnya bisa saja, tapi yang jelas enggak mau jualan kue kemarin lagi, kapok. Ada teman saya mau menitipkan nugget ikannya di stan saya dan makanan-makanan olahan ikan lainnya seperti siomay. Saya juga bisa saja ambil dagangan teman saya yang sebelumnya memang sudah janjian mau saya ambil untuk saya jual di bazar. Tapi, saya memang sudah tidak mau jualan lagi. Sisa dua hari itu saya gunakan untuk duduk-duduk saja di stan, bermain dengan si baby, membantu teman saya melayani pembeli. Saya merasa sungguh bebas dan tenang. Hati saya begitu damai.


Kisah ini begitu panjang, ya? Hahaha. Tapi, saya beneran ingin meng-sharenya. Saya cuma ingin berbagi pengalaman pertama saya mengikuti bazar dan memberi kejelasan sejelas-jelasnya bahwa.. berdagang itu gak gampang, bay! Modalnya harus kuat. Weits.. jangan pendek pikiran dulu. Modal yang dimaksud di sini bukanlah (sekadar) uang, melainkan (modal) kekuatan mental dan atur strategi. Pemahaman ini sebenarnya saya dapat dari Ney. Katanya sih dia sedih banget waktu tahu saya down di hari kedua itu dan dia lalu kasih tahu saya soal ini.


Dalam berdagang (berbisnis), untung-rugi itu sudah biasa. Klise banget sih sebenarnya dan ini seharusnya menjadi pegangan wajib banget buat para pengusaha. Tapi, ngalaminnya enggak semudah baca quotes itu, bay! Buktinya saya. Padahal, cuma jualan iseng, ikut-ikutan bazar, cari pengalaman dan sesuatu yang baru. Tapi, ketika dihadapkan sama kentungan dan (langsung) kerugian sesudahnya, rasanya tetap aja aneh. Enggak enak. Lucu, ya? Kadang, kita baru bisa memahami sesuatu jika sesuatu itu kita alami terlebih dahulu. Benar memang, pengalaman adalah guru yang paling berharga.


Memang banyak sekali ketidaksiapan saya menghadapi bazar yang kemarin. Tapi, itulah pelajarannya. Lagipula, mungkin memang harus begini ceritanya, biar saya dapat sesuatu (baca: pelajaran, pengalaman). Awalnya setelah kejadian itu, saya kapok banget. Saya janji enggak mau bazar-bazaran lagi, enggak mau kepikiran punya bisnisan lagi atau usahaan-usahaan gitu. Engga mau. Eh, tapi, berselang sehari saja, saya sudah berubah pikiran lagi. Saya ada rencana menyulap ruang tamu rumah di Puspa (Cibinong) menjadi sebuah outlet kecil-kecilan. Saya ada rencana mau jualan lagi, mengingat sebentar lagi kan mau lebaran.


Kata Ney sih, bisnis (dagang, jualan) itu telah menjadi semacam hobi (lainnya) buat saya. Kalau saya pikir-pikir, mungkin benar juga. Sebenarnya, kerugian karena berjualan tuh enggak saya alami sekarang ini saja, beberapa tahun lalu juga saya pernah berkali-kali berusaha punya jualan (dagangan), tapi enggak lanjut dan gagal lagi. Yah, tidak masalah, namanya juga usaha. Hehehe. ("Udahlah, Mar, nulis-nulis aja. Gak usah macem-macem." kata Ney *keplak*) Namun, yang jelas, saya sekarang harus belajar untuk lebih baik lagi. Berdagang juga butuh intuisi, pintar berstrategi, dan punya banyak modal (uang) tentunya. Hahaha. Tetap semangat, ah!


Well, perayaan ulang tahun Perpusnas sudah berakhir. Senin ini kami sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, sungguh, acara kemarin itu lumayan menghibur. Semoga perayaan ulang tahun kantor kami di tahun depan semakin meriah lagi, door price-nya lebih banyak, dan seluruh pegawai turut merasakan euforianya. Doa saya, semoga Perpustakaan Nasional senantiasa memberikan pelayanan yang optimal buat seluruh warga negara Indonesia dan bangsa ini menjadi bernilai di mata dunia berkat Perpustakaan Nasional. Hidup Perpusnas pokoknya. Hehehe.

Share/Bookmark

Senin, 14 Mei 2012

Sore yang Abadi

kudengar, ada sesuatu dengan sore ini. maka, aku memilih pulang..

di perjalanan, angin mengibaskan tubuhnya ke dekat wajahku
seketika itu juga aku merasa sangat sangat kuat
aku seakan aspal jalan yang tangguh
diam, tak berjalan, dan kehidupan berlalu lalang di diriku
mobil yang membawa rombongan keluarga sepulang wisata
bus kota yang mengangkut beragam jiwa yang salah satunya mungkin sedang kesepian
truk, motor, sepeda
mereka berlalu.. cepat.. berganti.. rupa-rupa..
aku menyaksikan dari sini. dunia sungguh ramai!
aku menyimak, dan aku menerima kalian semua yang berjalan
"hati-hati..," kataku

lalu langit mulai berubah warna
lampu jalanan mulai menyala
tiba-tiba aku merasa mampu sekali untuk menyayangi..
siapa pun
kekasih, orang tua, adik, keluarga, teman-teman, murid, penumpang angkutan, tukang bakso, penjual pulsa..
aku merasa begitu sanggup
ingin sekali rasanya mereka kupeluk dan kujanjikan tentang pelangi yang muncul usai hujan turun
jemariku lalu berubah menjadi gerimis, menelanjangi wajah mereka..
seperti sedang melukis ingatan..
seperti yang senang kulakukan padamu
aku ingin menangis rasanya, tapi aku masih di jalan. maka, remaja perempuan itulah yang menangis di sebelah ayahnya.
aku menghela napas dengan saaangat panjang
di depan, angin telah menungguku di atas jembatan penyeberangan itu
dan aku mulai menaiki anak tangga

jangan pernah berhenti..
sore yang abadi ini telah memberiku sesuatu:
ialah sebuah kekuatan untuk terus berjalan atau bahkan hanya diam
di arus lalu-lalang dunia
biarkan sayang itu mekar dengan sendiri dan kamu boleh memetik..
sementara, biarkan aku menjadi anak sang waktu.. yang terus bergulir, tak bisa dispekulasi. mungkin juga hilang, mungkin tak kelihatan.
namun, aku abadi, di sini, di antara roda-kaki yang melintas
dan kamu terus berujar, "sayang itu beda. lebih kuat dari cinta. aku sayang kamu..."

selamat datang, malam
aku sudah sampai


Sore yang Abadi

*edisi sayang Ney, kangen keluarga, dan dengerin One Dream at a Time-nya David Benoit.
I love u, Life. Being immortal with me.

Share/Bookmark

Rabu, 25 April 2012

Saya Adalah Saya

Saya berdoa dengan menyebut nama Tuhan (sebagai kata sapaan), bukan dengan Allah, Jesus, atau Jehova. Bagi saya, apa pun nama-Nya, pada intinya, Dia tetap satu. Yang dimaksud oleh saya, orang Buddha, muslim, kristiani, atau Yahudi adalah sama: Dia Sang Pencipta. Saya memilih menggunakan Tuhan karena terasa lebih universal dan kena di hati. Saya, yang terpenting, sreg di hati.


Pada waktu itu, saya sudah bisa dikatakan tidak pernah berdoa [lagi]. Saya melakukan ritual ibadah agama saya, tapi rasanya kosong. Saya hanya melakukan tata cara seperti yang tercatat dalam "buku pedoman". Saya melafalkan kata-kata yang tidak saya mengerti artinya sesudahnya, lalu saya melakukan aktivitas seperti biasa lagi dengan prinsip, "Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika bukan karena orang itu sendiri yang mengubah nasibnya." Maka, saya terus menajamkan logika. Dunia berjalan atas hukum sebab-akibat. Segala sesuatu di alam semesta ini menghasilkan aksi-reaksi. Saya berpikir, maka saya Ada.


Sampai akhirnya, saya merasa kekosongan ini semakin bertambah volumenya. Kehampaan saya telah hampir memenuhi ruang. Saya kehabisan daya dan mulai tidak percaya pada setiap usaha yang dilakukan selama ini. Nihil.
Lalu, dalam titik itulah seseorang mengingatkan saya--mungkin merasa khawatir karena melihat saya tampak blank dan seperti zombi--"Jangan lupa zikir, ya!" dengan nada serius. Itu terjadi pada suatu malam, dan saya merasa begitu tertohok. Ugh!


Harus saya akui, saya telah kehilangan kepercayaan, bukan hanya pada diri sendiri, melainkan juga pada tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Buruknya, bukan cuma saya yang menyadari ini, Ney juga. Dia bilang, "Masalahnya, kamu itu gak percaya sama apa pun." Oke... saya gak percaya sama Ney, saya gak percaya mama, saya gak percaya sama hari ini, saya gak percaya sama kata hati saya sendiri, saya gak percaya saya, saya bener-bener pecah. Yang saya tahu cuma apa yang ada di pikiran saya, yang bahkan sebagian besarnya berisi ilusi.


Entah mengapa, bukannya saya mengait-ngaitkan, tapi semenjak bekerja di tempat baru ini, saya jadi ringkih. Kemapanan saya sebagai seorang pribadi menjadi fluktuatif, tidak stabil. Saya berkali-kali menyalahkan pekerjaan. Karena ini, saya jadi mengalami kemunduran dalam hal pencapaian diri. Kimia tubuh saya seakan menolak untuk berkompromi dengan keadaan yang baru itu. Semakin saya membuka diri dan berusaha keras untuk beradaptasi, ada pertambahan satu jarak yang menghalangi saya. Jika saya lupa [diri] dan terus terbuka, entahlah apa yang terjadi, mungkin saya akan semakin jauh dengan diri sendiri. Persis seperti yang dibilang Liam Gallagher dalam "Look back in anger".. my soul slides away...


"Kenalilah dirimu sendiri, maka kamu akan mengenal tuhanmu." Saya tahu pepatah itu. Saya telah mempelajarinya bertahun-tahun lalu, dan beruntungnya saya, saya berhasil memahami dan menerapkannya. Saya sungguh senang dengan keajaiban itu. Tapi, toh, barangkali tidak ada yang namanya pencapaian di dunia ini. Sekali kamu merasa inilah titik tertinggimu, maka kamu sebenarnya sedang berada di titik terbawah lagi dari sebuah pencarian. That's life. Ke mana sebenarnya siklus hidup ini akan bermuara?


Saya bertransformasi. Sejak malam itu, ketika seseorang menyuruh saya untuk berzikir, saya mulai kembali mengenali jalan saya. Saya menyebut-Nya, meskipun baru lewat mulut, namun semoga yang artifisial ini membawa saya kepada makna. Saya kembali berdoa, bukan seusai saya melakukan ritual ibadah--dengan kata-kata yang tidak saya mengerti itu artinya. Saya kembali berdoa, di setiap malam, sebelum tidur, bahkan akhir-akhir ini kapan saja saya membutuhkannya, [berdoa] lewat tulisan di Evernote [ini bukan iklan]. Di situ saya ketikkan apa pun yang ingin saya ungkapkan, sebuah doa: cerita, permohonan, harapan, mimpi, keinginan, kegelisahan, kejujuran, apa pun. Dan, saya biasa memulainya dengan kalimat pembuka seperti, "Hai tuhan, lagi ngapain?", "Halo tuhan..", "Morning, tuhan..", "Halo, selamat malam, apa kamu sedang menungguku?" Demi tuhan, itu rasanya lebih menyentuh ke dalam hati.
Saya kembali berkomunikasi dengan-Nya [hal yang sudah sejak lama saya tinggalkan karena membuat saya ragu, apa untungnya melakukan  itu?], saya kembali terbuka pada diri sendiri, berlatih jujur, dan yang terpenting, saya belajar untuk Percaya lagi... Saya harap ini tidak akan berakhir dan terus berlangsung hingga lama. Betapa saya membutuhkan semua ini lebih dari sekadar untung-untungan tadi. Saya suka dengan metode saya.


Menemukan cara berkomunikasi dengan tepat bukanlah perkara gampang ternyata, apalagi jika itu dilakukan kepada sahabat lama, pernah akrab, namun kini menjadi jauh dan asing. Perbincangan menjadi tidak hanya berisi sapaan atau saling tanya keadaan, tetapi juga mencakup permohonan maaf terselubung, penerimaan diri, penghapusan amarah, dan keterbukaan menjalin hubungan yang lebih baik... dengan tuhan, dengan diri sendiri.


Saya bukanlah saya yang dulu. Saya benar berubah. Dunia kecil saya sudah semakin ramai. Pekerjaan saya tak berselaras dengan jiwa saya, tapi bagaimana semua itu tetap menjadi bagian dari dunia kecil saya yang meramai. Bagaimana saya tetap menjadi diri saya yang utuh di antara keramaian ini. Saya harus tetap menjadi saya yang telah bertransformasi. Saya benar berubah, tapi itu sebatas sesuatu yang ada di luar saya, sementara saya tetaplah saya beberapa tahun lalu yang berhasil menemukan dirinya sendiri dalam cara memaknai keberadaan-Nya. Kini saya telah menjadi diri sendiri, yang sedang kembali menemukan-Nya, lewat diri saya. Saya hanya cukup menjadi diri sendiri untuk hidup ber-manunggaling dengan Dia. Saya berzikir (mengingat), maka saya Ada.


Jadi ingat apa kata Sting dalam lagunya "English Man in New York".. be yourself, no matter what they say. Maka, sekarang, saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, lebih terisi, tidak kosong lagi. Ketakutan saya terkikis sedikit demi sedikit. Saya menjadi lebih enjoy dan easy going. Saya lupakan satu per satu yang teringat. Saya ungkapkan perasaan saya pada orang-orang dekat: Ney, keluarga. Saya menjadi kuat dengan sendirinya, menjadi dewasa, dan saya tahu, itu adalah proses.


Well, pada akhirnya, Saya berproses, maka saya Ada. Hahaha. Saya adalah perempuan dewasa, saya adalah diri sendiri, saya adalah saya. :)


Nice to have you back, Tuhan.. Welcome home.

Share/Bookmark

Selasa, 10 April 2012

Pulang Edisi Cia & Indun

Pada akhirnya, saya patut berterima kasih kepada dua sahabat baru saya di kantor, Cia n Indun, yang telah membawa saya pulang. :)


Ide pulang (baca: pulang kampung) tampaknya selalu agak menekan diri saya entah karena apa, mungkin karena saya sudah tua dan takut ditanya, "Kapan nikah?" Haha. Sebenarnya gak gitu-gitu banget juga. Tapi, mama sekarang balik ke kampung halaman setelah pensiun dan tinggal di sana (seperti kebanyakan para pensiunan, kan?). Dia menetap di tengah-tengah keluarga besarnya. Bertemu, walau niatnya cuma balik ke rumah mama--ketemu mama n ines (seperti halnya pulang kerja aja atau anak kos yang balik ke rumahnya), tapi karena kini mereka di "kampung", jadi, pulang, sama artinya juga dengan bertemu keluarga besar. Dan, kondisi menjadi lain di gambaran saya kalau sudah begini urusannya.


Yah, tetapi, benar, semua itu hanya ada di gambaran. Saya kadang sudah mempersepsikan kepulangan dengan sesuatu yang "mengerikan" dan membuat saya tidak nyaman. Kenyataannya, tidak begitu juga, walau mungkin ada juga sekelumit kejadian tentang ketidaknyamanan itu, tapi saya bertekad untuk cepat melupakannya, seketika juga usai kejadian itu berlalu.


Kepulangan saya kali ini ditemani Cia n Indun yang ingin sekali melakukan trip ke Kuningan--inilah yang kemudian membulatkan tekad saya untuk pulang. Saya tidak tahu apakah perjalanan kemarin cukup memuaskan mereka. Tapi, mereka adalah teman terbaik saya di kantor. Arti kunjungan mereka, bagi saya, bukan semata jalan-jalan, tapi barangkali lebih. Dan, mudah-mudahan, dengan arti yang "mulia" itu, tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi bahagia dengan sendirinya, bukan karena perjalanan ini, hal itu, atau apa pun yang berkaitan dengannya, melainkan sesuatu yang memuaskan mereka saja atas kehidupan yang mahamisteri ini, mahabaik, dan mahapesona. Semoga tuhan cepat mempertemukan keduanya dengan pasangan masing-masing. ;)


Saya bahagia dengan kepulangan kemarin. Semoga keluarga saya sehat-sehat terus, baik-baik, dan hidup sejahtera. Sampai ketemu lagi. I will miss you, Home. :)


Dari kiri: Ines (adik saya), Cia, Indun.
Kami berjalan menuju kota untuk beli oleh-oleh. :)
Kabut sepulang berbelanja oleh-oleh.

Share/Bookmark

Senin, 02 April 2012

Mengajar Ken (Lagi)

Saya menyebutnya, satu kebetulan yang manis.

Sudah dua minggu ini saya punya aktivitas baru, yaitu mengajar Ken di Bogor. Ken adalah murid lama saya yang tinggal di Tajur. Pada awal bekerja di Perpusnas, saya juga sempat sambil mengajar Ken. Namun, adaptasi di tempat kerja baru dengan sistemnya yang masih menyulitkan saya sebagai pegawai baru, akhirnya membuat saya meninggalkan mengajar. Setahun lamanya sejak itu dan saya tidak berpikir akan bisa bertemu dia lagi, namun suatu hari mamanya menghubungi saya tiga minggu yang lalu, meminta saya untuk mengajar Ken lagi. Maka, sudah dua minggu ini saya punya aktivitas tambahan yang sangat menyenangkan di akhir pekan.

Ken Berubah
Ken membuat saya pangling. Dia sudah tinggi, suaranya mulai berubah, wajahnya makin tampan, dan dia makin seperti orang Jepang (ayahnya orang Jepang). Ken sekarang kelas 2 SMP di Home Schooling Kak Seto. Saya mengajar dia sejak Ken kelas 6. Saya adalah aid teacher-nya di Madania School. Dia dideteksi ADHD, maka setiap anak berkebutuhan khusus di sekolah itu punya guru pendampingnya sendiri. Saya mengajar dan menemani dia, di sekolah, di rumah, ikut serta bersama mamanya menemui psikiater. Begitu intensnya kami hingga tak terasa hal itu menumbuhkan chemistry di antara kami berdua. Sejauh ini saya dan Ken mampu bekerja sama. Kami bicara bukan hanya soal pelajaran, melainkan pula tentang kehidupan, cita-cita Ken, games-games yang membuatnya gila, kegusaran hatinya, cewek idaman, keluarga. Kami menjadi terbiasa berbagi cerita. Hingga tampaknya, mama Ken menyadari hal ini. Maka, dia pun meminta saya kembali. Guru juga memang cocok-cocokan ternyata. Ada beberapa pengajar yang hadir di kehidupan Ken setelah saya, tapi tidak ada yang bertahan lama.
  
Mengenai hal ini, saya jadi ingat tentang Fadhil, murid baru saya (3 bulan ini) yang seorang autism. Mamanya sering bercerita tentang seorang guru yang lebih sering bersama Fadhil yang disebut mamanya sebagai guru yang telah mengenal Fadhil lama dan memahami anaknya ini hingga membuat sang mama terus berkomunikasi dengan guru tersebut meskipun sang guru berada di Bandung dan punya beragam aktivitas. Barangkali, begitu juga posisi saya di keluarga Ken. Pada akhirnya, saya patut bersyukur atas kepercayaan ini.

Menariknya dari Ken yang sekarang adalah dia lebih dewasa. Dia lebih mudah diatur untuk belajar, biasanya selalu susah dan menolak. Dia lebih luwes terhadap mood-nya, lebih bisa mengendalikan diri dan berkompromi. Lebih menurut, patuh, menghargai, sepertinya banyak sekali pelajaran kehidupan yang telah dia serap selama ini. Semoga dia terus selalu ingin belajar. Karenanya, mengajar Ken menjadi sesuatu yang cukup menyenangkan buat saya. Bukan hanya dia yang belajar, saya juga. Kami selalu dua arah. Saya mencoba memahami anak seusia dia, menambah bekal pengetahuan jika saya punya anak nanti. Kami belajar sambil tertawa-tawa. Yang sedang ingin sekali saya tekankan pada dia adalah belajar (akademis) secara mandiri, tidak selalu harus ada yang menyediakan (guru les maupun mamanya), apalagi kan dia ini siswa home-schooling, jadi sebaiknya memang terbiasa untuk belajar sendiri. Dia lagi saya biasakan terus untuk memahami segala sesuatu (berkaitan dengan pelajaran) dengan cara mind-mapping. Mudah-mudahan berhasil.

Oya, pertemuan pertama kami pada minggu yang lalu diisi dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Dia punya tugas sekolah membuat puisi. Dengan susah payah saya mengarahkan dia untuk membuatnya. Saya pikir itu akan sulit, menulis puisi tentang suatu peristiwa mengesankan yang pernah dialami. Dibutuhkan waktu yang lama.. sekali untuk menemukan momen yang akan ditulisnya. Tapi ternyata, dia berhasil melakukannya! Wow, saya amaze sekali. Dia pun tampaknya begitu. Puisinya pun langsung diposting ke Facebook. Hehe.
Tema puisinya adalah tentang kebebasan. :)

Kebetulan yang Manis
Jarak tempuh Jakarta-Bogor bukanlah masalah buat saya. Saya mengajar Ken di hari Sabtu pagi ketika tidak ngantor dan kadang di Jumat  sore sepulang kantor untuk kemudian pulang kembali ke kosan. Saya biasa pulang dengan kereta pukul 8 malam kalau keburu. Kalau tidak, saya  naik yang terakhir, yaitu pukul 9 malam dari stasiun Bogor. Saya tiba di kosan paling lama pukul setengah 11. Jika itu terjadi di hari Jumat, maka Sabtu paginya saya harus bersiap-siap ke Bogor lagi dengan kereta yang pukul 7 atau 8 pagi. Tapi, anehnya, saya tidak merasa capek. Saya malah suka. Saya menikmati aktivitas ini.

Sepulang mengajar saya biasanya bertemu Ney. Kami paling hanya makan bareng atau mencari-cari sesuatu kebutuhan hingga berakhir di stasiun kereta malam hari. Kami sengaja ke stasiun satu jam sebelum kereta akan berangkat. Di sana kami hanya duduk-duduk, ditemani angin, rel yang berjajar, kereta yang menunggu penumpang. Di kejauhan sana, di arah selatannya tempat kami menunggu, Gunung Salak yang menjulang bagai lukisan sudah tak tampak lagi sebagaimana matahari masih bersinar. Yang ada kini hanya gelap dan lampu-lampu yang menyala dari jajaran tempat makan sepanjang Jalan Merdeka.

Saya menyebutnya, satu kebetulan yang manis. Kini saya punya alasan yang lebih masuk akal untuk berada rutin di kota ini ketimbang sekadar jalan-jalan di Bogor atau bertemu Ney: saya mengajar Ken lagi. Ini mengharuskan saya setidaknya dua kali dalam seminggu untuk berada di Kota Bogor, sebelum kelak saya dan Ney punya rumah sendiri di kota ini atau minimal saya kembali tinggal di Bojong Gede di rumah mama usai masa penyewaan rumah tersebut berakhir. Saya tidak sabar rasanya, ingin cepat-cepat kembali ke Bogor, betapa saya ternyata sangat menyukai kota itu. Dan aktivitas baru saya ini, sungguh membuat saya bahagia.

Saya sangat menikmati perjalanan saya berkereta, proses saya mengajar Ken, cara saya menghabiskan waktu bersama Ney sesudahnya. Terkesan memang hanya bolak-balik, tidak efisien, capenya doang, dan kurang menghasilkan. Tapi, dari sini saya benar-benar mengerti sebab saya sedang mengalaminya. Kata orang, kebahagiaan bukan terletak pada kekayaan atau berapa banyak harta yang kamu punya (baca: hasil). Kebahagiaan terletak pada perjalanan ini.
Happiness is a way of travel, not a destination.
Happiness.
Saya benar-benar mengalaminya! Terima kasih atas satu kebetulan yang manis ini, alam. Semoga saya senantiasa sehat dan sentosa.

*Mengenai cara saya menghabiskan waktu bersama Ney sepulang mengajar, ada satu yang menarik terjadi di akhir pekan ini, yaitu berkunjung ke sekretariat Kalam (Komunitas Peduli Kampung Halaman) di wilayah Indraprasta, Bogor. Saya punya ceritanya sendiri tentang ini. Sila membaca.. :)

Share/Bookmark
Nona Devi. Diberdayakan oleh Blogger.

Anakku, Karyaku..

Anakku, Karyaku..
Bunga Rampai Cerpen DKJ