Perayaan ulang tahun yang ke-32 Perpustakaan Nasional RI baru saja berakhir. Rangkaian kegiatan dilakukan sejak 12 Mei lalu, berupa pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan kemudian “ditutup” oleh pembagian door price pada 25 Mei kemarin. Hampir sebulan ini kantor kami ramai oleh banyaknya kegiatan, perlombaan antar-Deputi, mulai dari pertandingan futsal hingga lomba paduan suara. (http://kelembagaan.pnri.go.id/beranda/agenda/, http://www.facebook.com/ayokeperpusnas) Kami seperti sekolah yang sedang menyelenggarakan class meeting.
Kemeriahan puncak perayaan berlangsung hampir seminggu penuh, yaitu di seminggu terakhir ini. Ada pemutaran film, diskusi, talk show dengan duta baca Perpusnas yang baru, Kick Andy, dan kegiatan menarik lainnya. Secara pribadi, saya sangat senang dengan kemeriahan ini, saya cukup menikmatinya. Seminggu ini kantor tampak sangat berwarna, hidup saya juga. Saya mungkin memang tidak terlibat langsung dengan bermacam-macam kegiatan tersebut. Saya hanya semacam penonton dan penikmat, tapi itu pun sudah cukup. Ada sesuatu yang barulah, yang terpenting, lepas sejenak dari rutinitas dan pekerjaan yang monoton.
Adapun yang menarik dari perayaan ulang tahun-an ini, buat saya, adalah sekelumit kisah tentang pengalaman pertama saya membuka lapak di bazar alias jualan. Inilah yang menarik dari semingguan ini, bikin hari-hari saya menjadi lebih berwarna, lelah, tapi seru. Bazar yang berlangsung selama 4 hari itu membuat saya seakan merasakan apa yang para pedagang rasakan. Gila, jadi pedagang itu susah.. lelah! Saya jadi salut sama mereka.
Hari pertama. Saya (harus) bangun lebih pagi dari biasanya. Enggak tahu kenapa, naluri pedagang aja kali ya.. Lalu, saya pun mandi lebih pagi dari biasanya dan ke kantor lebih pagi dari biasanya juga dan dari kebanyakan orang, rekan-rekan saya di kantor. Hari pertama, saya datang jam 7 lebih. Berhubung barang dagangan yang saya jual adalah makanan, yaitu nugget made in Mama Ken, mamanya murid saya, maka pagi itu saya sudah sibuk memindah-mindahkan bungkusan nugget ke dalam freezer kantor. Lalu, ketika makanan lainnya yang akan saya jual, yaitu macaroni schotel dan klappertaart tiba diantar oleh kurir toko kuenya, saya pun turun ke meja bazar yang sebelumnya sudah saya cek dahulu posisinya di mana. Setelah saya simpan kue-kue saya di situ, saya lalu ke atas lagi untuk mengambil nugget-nugget saya yang kemudian disimpan di cool box. Hari itu saya ribet banget. Untung dua sahabat saya, seperti biasa, Cia dan Indun dengan ringan hati mau membantu, sehingga urusan hari pertama itu berjalan lancar. Teman semeja bazar saya hari itu datang telat. Namun, secara keseluruhan, hari pertama bazar bisa dikatakan berhasil. Dagangan saya laris manis. Sore itu sepulang bazar, saya dan teman semeja bazar saya pergi ke tukang es puter untuk memesan sekaleng es yang akan kami jual esok harinya.
Hari kedua. Entah kenapa, pagi itu saya enggak mood. Saya tetap bangun pagi seperti kemarin, tapi rasa bangunnya di hari kedua ini berbeda dengan di hari pertama. Kalau kemarin saya merasa bersemangat walau lelah, di hari kedua ini, saya malas sekali dan bangun pagi dengan perasaan terpaksa. Entahlah kenapa. Meskipun begitu, saya tetap ke kantor pagi-pagi.
Usai merapikan meja bazar, saya ke atas, ke ruang kerja saya. Seperti biasa, saya merapikan nugget-nugget yang akan dijual yang semalamnya menginap di freezer kantor. Menariknya dari nasib dagangan saya yang satu ini, dia mujur. Belum juga saya turun ke bazar, dua orang ibu di ruangan membeli nugget saya. Tinggal 3 bungkus yang tersisa, dan itu pun bukan nugget, melainkan ayam mawar, yaitu bagian paha ayam yang diisi dengan soun dan jamur.
Setelah beres, saya pun turun. Teman semeja bazar saya menelepon untuk bertemu di depan kantor. Dia adalah seorang ibu muda yang tengah hamil 6 bulan dan hari itu dia membawa anak lelakinya yang berusia 9 bulan ke kantor karena pengasuhnya sedang kena cacar dan minta balik ke kampung. Dia membutuhkan bantuan saya. Saya pun membantunya. Demi tuhan, anaknya lucu banget.
Hari itu, stan kami ramai sekali, oleh barang-barang dagangan teman saya, kardus-kardus kue saya, dan perlengkapan bayi termasuk kereta bayinya. Siang itu panas sekali dan saya harus mengambil pesanan es puter kemarin di tempatnya. Iya, sayang memang, pesanan kami tidak menyediakan delivery. Alhasil, saya pun harus mengambilnya ke sana. Syukurlah, masa-masa kritis itu akhirnya terlalui juga dan kami resmi menjual es puter.
Singkat cerita, kue dagangan saya yang saya pesan-antar dari toko kue yang isinya klappertaart semua (tidak ada macaroni schotel), belum sampai 5 jam, sudah tak bisa dimakan alias asam alias basi. Anehnya, itu di beberapa jenis saja, sedangkan jenis lain masih bisa dimakan sampai magrib (kebetulan teman saya beli dua, satu basi, satu enak). Mengetahui bahwa kue-kuenya sudah tidak layak makan dan tidak layak jual tentu saja, langsung saya buang. Masih tersisa beberapa, dan untungnya beberapa pembeli melakukan transaksi di pagi hari ketika kue itu baru datang. Mudah-mudahan mereka telah menghabiskannya sebelum kue itu menjadi basi (amin). Saya menelepon tokonya dan pihaknya bilang akan mengganti kue yang rusak, tapi saya tidak yakin akan memesan kue itu lagi. Maka, di sisi ini, saya rugi.
Kerugian lainnya datang dari sisi penjualan es puter. Dari 100 cup yang kami pesan, es puter kami hanya terjual seperempatnya. Ketika saya angkat wadah esnya dari tempatnya, saya dibuat takjub dan bingung. Kaleng es ini begitu panjang, es puter di dalamnya masih sangat banyak, sementara kami tidak yakin ada freezer di kantor yang bisa memuat wadah ini. Ide untuk memindahkan es puter itu ke beberapa wadah kecil supaya bisa muat dimasukkan ke freezer memang ada, tapi wadah apa, wadah mana, kami tak punya?!
Di tengah kebingungan itu dan mental saya yang telah jatuh atas nasib kue-kue tadi, otak saya sudah tak mampu diajak berpikir lagi sehingga yang terlintas hanyalah membagikan es puter itu ke orang-orang. Teman semeja bazar saya juga setuju karena terus terang, kami sudah merasa sangat lelah sore itu dan buntu. Maka, penghujung hari kedua itu diwarnai dengan pemandangan antrian orang-orang di stand bazar kami. Ada pegawai, Satpam, para OB dan OG kantor, dan sesama pedagang bazar. Sebagian dari mereka berdiri rapi sambil membawa gelas, cangkir, maupun kotak makan untuk diisi es. Sementara itu, saya dengan sigap
menyerut satu demi satu sendokan es dan mengisinya ke wadah-wadah mereka. Saya tidak bisa berpikir. Namun, yang jelas, saya merasa lega. Masalah saat itu telah selesai. Solusinya adalah membagikan es puter sisa kepada orang-orang.
Saya pulang ke kosan dengan keadaan lelah dan galau (eaaa.. ). Hari itu saya rugi. Yang saya butuhkan saat itu adalah melupakannya. Lupa. Saya ingin istirahat benar.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Hahaha. Dua hari terakhir bazar itu saya tidak jualan. Saya capek, kapok. Saya ingin santai-santai saja, bermain-main dengan anak teman semeja bazar saya yang lucu. Kalau mau jualan, sebenarnya bisa saja, tapi yang jelas enggak mau jualan kue kemarin lagi, kapok. Ada teman saya mau menitipkan nugget ikannya di stan saya dan makanan-makanan olahan ikan lainnya seperti siomay. Saya juga bisa saja ambil dagangan teman saya yang sebelumnya memang sudah janjian mau saya ambil untuk saya jual di bazar. Tapi, saya memang sudah tidak mau jualan lagi. Sisa dua hari itu saya gunakan untuk duduk-duduk saja di stan, bermain dengan si baby, membantu teman saya melayani pembeli. Saya merasa sungguh bebas dan tenang. Hati saya begitu damai.
Kisah ini begitu panjang, ya? Hahaha. Tapi, saya beneran ingin meng-sharenya. Saya cuma ingin berbagi pengalaman pertama saya mengikuti bazar dan memberi kejelasan sejelas-jelasnya bahwa.. berdagang itu gak gampang, bay! Modalnya harus kuat. Weits.. jangan pendek pikiran dulu. Modal yang dimaksud di sini bukanlah (sekadar) uang, melainkan (modal) kekuatan mental dan atur strategi. Pemahaman ini sebenarnya saya dapat dari Ney. Katanya sih dia sedih banget waktu tahu saya down di hari kedua itu dan dia lalu kasih tahu saya soal ini.
Dalam berdagang (berbisnis), untung-rugi itu sudah biasa. Klise banget sih sebenarnya dan ini seharusnya menjadi pegangan wajib banget buat para pengusaha. Tapi, ngalaminnya enggak semudah baca quotes itu, bay! Buktinya saya. Padahal, cuma jualan iseng, ikut-ikutan bazar, cari pengalaman dan sesuatu yang baru. Tapi, ketika dihadapkan sama kentungan dan (langsung) kerugian sesudahnya, rasanya tetap aja aneh. Enggak enak. Lucu, ya? Kadang, kita baru bisa memahami sesuatu jika sesuatu itu kita alami terlebih dahulu. Benar memang, pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Memang banyak sekali ketidaksiapan saya menghadapi bazar yang kemarin. Tapi, itulah pelajarannya. Lagipula, mungkin memang harus begini ceritanya, biar saya dapat sesuatu (baca: pelajaran, pengalaman). Awalnya setelah kejadian itu, saya kapok banget. Saya janji enggak mau bazar-bazaran lagi, enggak mau kepikiran punya bisnisan lagi atau usahaan-usahaan gitu. Engga mau. Eh, tapi, berselang sehari saja, saya sudah berubah pikiran lagi. Saya ada rencana menyulap ruang tamu rumah di Puspa (Cibinong) menjadi sebuah outlet kecil-kecilan. Saya ada rencana mau jualan lagi, mengingat sebentar lagi kan mau lebaran.
Kata Ney sih, bisnis (dagang, jualan) itu telah menjadi semacam hobi (lainnya) buat saya. Kalau saya pikir-pikir, mungkin benar juga. Sebenarnya, kerugian karena berjualan tuh enggak saya alami sekarang ini saja, beberapa tahun lalu juga saya pernah berkali-kali berusaha punya jualan (dagangan), tapi enggak lanjut dan gagal lagi. Yah, tidak masalah, namanya juga usaha. Hehehe. ("Udahlah, Mar, nulis-nulis aja. Gak usah macem-macem." kata Ney *keplak*) Namun, yang jelas, saya sekarang harus belajar untuk lebih baik lagi. Berdagang juga butuh intuisi, pintar berstrategi, dan punya banyak modal (uang) tentunya. Hahaha. Tetap semangat, ah!
Well, perayaan ulang tahun Perpusnas sudah berakhir. Senin ini kami sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, sungguh, acara kemarin itu lumayan menghibur. Semoga perayaan ulang tahun kantor kami di tahun depan semakin meriah lagi, door price-nya lebih banyak, dan seluruh pegawai turut merasakan euforianya. Doa saya, semoga Perpustakaan Nasional senantiasa memberikan pelayanan yang optimal buat seluruh warga negara Indonesia dan bangsa ini menjadi bernilai di mata dunia berkat Perpustakaan Nasional. Hidup Perpusnas pokoknya. Hehehe.
Kemeriahan puncak perayaan berlangsung hampir seminggu penuh, yaitu di seminggu terakhir ini. Ada pemutaran film, diskusi, talk show dengan duta baca Perpusnas yang baru, Kick Andy, dan kegiatan menarik lainnya. Secara pribadi, saya sangat senang dengan kemeriahan ini, saya cukup menikmatinya. Seminggu ini kantor tampak sangat berwarna, hidup saya juga. Saya mungkin memang tidak terlibat langsung dengan bermacam-macam kegiatan tersebut. Saya hanya semacam penonton dan penikmat, tapi itu pun sudah cukup. Ada sesuatu yang barulah, yang terpenting, lepas sejenak dari rutinitas dan pekerjaan yang monoton.
Adapun yang menarik dari perayaan ulang tahun-an ini, buat saya, adalah sekelumit kisah tentang pengalaman pertama saya membuka lapak di bazar alias jualan. Inilah yang menarik dari semingguan ini, bikin hari-hari saya menjadi lebih berwarna, lelah, tapi seru. Bazar yang berlangsung selama 4 hari itu membuat saya seakan merasakan apa yang para pedagang rasakan. Gila, jadi pedagang itu susah.. lelah! Saya jadi salut sama mereka.
Hari pertama. Saya (harus) bangun lebih pagi dari biasanya. Enggak tahu kenapa, naluri pedagang aja kali ya.. Lalu, saya pun mandi lebih pagi dari biasanya dan ke kantor lebih pagi dari biasanya juga dan dari kebanyakan orang, rekan-rekan saya di kantor. Hari pertama, saya datang jam 7 lebih. Berhubung barang dagangan yang saya jual adalah makanan, yaitu nugget made in Mama Ken, mamanya murid saya, maka pagi itu saya sudah sibuk memindah-mindahkan bungkusan nugget ke dalam freezer kantor. Lalu, ketika makanan lainnya yang akan saya jual, yaitu macaroni schotel dan klappertaart tiba diantar oleh kurir toko kuenya, saya pun turun ke meja bazar yang sebelumnya sudah saya cek dahulu posisinya di mana. Setelah saya simpan kue-kue saya di situ, saya lalu ke atas lagi untuk mengambil nugget-nugget saya yang kemudian disimpan di cool box. Hari itu saya ribet banget. Untung dua sahabat saya, seperti biasa, Cia dan Indun dengan ringan hati mau membantu, sehingga urusan hari pertama itu berjalan lancar. Teman semeja bazar saya hari itu datang telat. Namun, secara keseluruhan, hari pertama bazar bisa dikatakan berhasil. Dagangan saya laris manis. Sore itu sepulang bazar, saya dan teman semeja bazar saya pergi ke tukang es puter untuk memesan sekaleng es yang akan kami jual esok harinya.
Hari kedua. Entah kenapa, pagi itu saya enggak mood. Saya tetap bangun pagi seperti kemarin, tapi rasa bangunnya di hari kedua ini berbeda dengan di hari pertama. Kalau kemarin saya merasa bersemangat walau lelah, di hari kedua ini, saya malas sekali dan bangun pagi dengan perasaan terpaksa. Entahlah kenapa. Meskipun begitu, saya tetap ke kantor pagi-pagi.
Usai merapikan meja bazar, saya ke atas, ke ruang kerja saya. Seperti biasa, saya merapikan nugget-nugget yang akan dijual yang semalamnya menginap di freezer kantor. Menariknya dari nasib dagangan saya yang satu ini, dia mujur. Belum juga saya turun ke bazar, dua orang ibu di ruangan membeli nugget saya. Tinggal 3 bungkus yang tersisa, dan itu pun bukan nugget, melainkan ayam mawar, yaitu bagian paha ayam yang diisi dengan soun dan jamur.
Setelah beres, saya pun turun. Teman semeja bazar saya menelepon untuk bertemu di depan kantor. Dia adalah seorang ibu muda yang tengah hamil 6 bulan dan hari itu dia membawa anak lelakinya yang berusia 9 bulan ke kantor karena pengasuhnya sedang kena cacar dan minta balik ke kampung. Dia membutuhkan bantuan saya. Saya pun membantunya. Demi tuhan, anaknya lucu banget.
Hari itu, stan kami ramai sekali, oleh barang-barang dagangan teman saya, kardus-kardus kue saya, dan perlengkapan bayi termasuk kereta bayinya. Siang itu panas sekali dan saya harus mengambil pesanan es puter kemarin di tempatnya. Iya, sayang memang, pesanan kami tidak menyediakan delivery. Alhasil, saya pun harus mengambilnya ke sana. Syukurlah, masa-masa kritis itu akhirnya terlalui juga dan kami resmi menjual es puter.
Singkat cerita, kue dagangan saya yang saya pesan-antar dari toko kue yang isinya klappertaart semua (tidak ada macaroni schotel), belum sampai 5 jam, sudah tak bisa dimakan alias asam alias basi. Anehnya, itu di beberapa jenis saja, sedangkan jenis lain masih bisa dimakan sampai magrib (kebetulan teman saya beli dua, satu basi, satu enak). Mengetahui bahwa kue-kuenya sudah tidak layak makan dan tidak layak jual tentu saja, langsung saya buang. Masih tersisa beberapa, dan untungnya beberapa pembeli melakukan transaksi di pagi hari ketika kue itu baru datang. Mudah-mudahan mereka telah menghabiskannya sebelum kue itu menjadi basi (amin). Saya menelepon tokonya dan pihaknya bilang akan mengganti kue yang rusak, tapi saya tidak yakin akan memesan kue itu lagi. Maka, di sisi ini, saya rugi.
Kerugian lainnya datang dari sisi penjualan es puter. Dari 100 cup yang kami pesan, es puter kami hanya terjual seperempatnya. Ketika saya angkat wadah esnya dari tempatnya, saya dibuat takjub dan bingung. Kaleng es ini begitu panjang, es puter di dalamnya masih sangat banyak, sementara kami tidak yakin ada freezer di kantor yang bisa memuat wadah ini. Ide untuk memindahkan es puter itu ke beberapa wadah kecil supaya bisa muat dimasukkan ke freezer memang ada, tapi wadah apa, wadah mana, kami tak punya?!
Di tengah kebingungan itu dan mental saya yang telah jatuh atas nasib kue-kue tadi, otak saya sudah tak mampu diajak berpikir lagi sehingga yang terlintas hanyalah membagikan es puter itu ke orang-orang. Teman semeja bazar saya juga setuju karena terus terang, kami sudah merasa sangat lelah sore itu dan buntu. Maka, penghujung hari kedua itu diwarnai dengan pemandangan antrian orang-orang di stand bazar kami. Ada pegawai, Satpam, para OB dan OG kantor, dan sesama pedagang bazar. Sebagian dari mereka berdiri rapi sambil membawa gelas, cangkir, maupun kotak makan untuk diisi es. Sementara itu, saya dengan sigap
menyerut satu demi satu sendokan es dan mengisinya ke wadah-wadah mereka. Saya tidak bisa berpikir. Namun, yang jelas, saya merasa lega. Masalah saat itu telah selesai. Solusinya adalah membagikan es puter sisa kepada orang-orang.
Saya pulang ke kosan dengan keadaan lelah dan galau (eaaa.. ). Hari itu saya rugi. Yang saya butuhkan saat itu adalah melupakannya. Lupa. Saya ingin istirahat benar.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Hahaha. Dua hari terakhir bazar itu saya tidak jualan. Saya capek, kapok. Saya ingin santai-santai saja, bermain-main dengan anak teman semeja bazar saya yang lucu. Kalau mau jualan, sebenarnya bisa saja, tapi yang jelas enggak mau jualan kue kemarin lagi, kapok. Ada teman saya mau menitipkan nugget ikannya di stan saya dan makanan-makanan olahan ikan lainnya seperti siomay. Saya juga bisa saja ambil dagangan teman saya yang sebelumnya memang sudah janjian mau saya ambil untuk saya jual di bazar. Tapi, saya memang sudah tidak mau jualan lagi. Sisa dua hari itu saya gunakan untuk duduk-duduk saja di stan, bermain dengan si baby, membantu teman saya melayani pembeli. Saya merasa sungguh bebas dan tenang. Hati saya begitu damai.
Kisah ini begitu panjang, ya? Hahaha. Tapi, saya beneran ingin meng-sharenya. Saya cuma ingin berbagi pengalaman pertama saya mengikuti bazar dan memberi kejelasan sejelas-jelasnya bahwa.. berdagang itu gak gampang, bay! Modalnya harus kuat. Weits.. jangan pendek pikiran dulu. Modal yang dimaksud di sini bukanlah (sekadar) uang, melainkan (modal) kekuatan mental dan atur strategi. Pemahaman ini sebenarnya saya dapat dari Ney. Katanya sih dia sedih banget waktu tahu saya down di hari kedua itu dan dia lalu kasih tahu saya soal ini.
Dalam berdagang (berbisnis), untung-rugi itu sudah biasa. Klise banget sih sebenarnya dan ini seharusnya menjadi pegangan wajib banget buat para pengusaha. Tapi, ngalaminnya enggak semudah baca quotes itu, bay! Buktinya saya. Padahal, cuma jualan iseng, ikut-ikutan bazar, cari pengalaman dan sesuatu yang baru. Tapi, ketika dihadapkan sama kentungan dan (langsung) kerugian sesudahnya, rasanya tetap aja aneh. Enggak enak. Lucu, ya? Kadang, kita baru bisa memahami sesuatu jika sesuatu itu kita alami terlebih dahulu. Benar memang, pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Memang banyak sekali ketidaksiapan saya menghadapi bazar yang kemarin. Tapi, itulah pelajarannya. Lagipula, mungkin memang harus begini ceritanya, biar saya dapat sesuatu (baca: pelajaran, pengalaman). Awalnya setelah kejadian itu, saya kapok banget. Saya janji enggak mau bazar-bazaran lagi, enggak mau kepikiran punya bisnisan lagi atau usahaan-usahaan gitu. Engga mau. Eh, tapi, berselang sehari saja, saya sudah berubah pikiran lagi. Saya ada rencana menyulap ruang tamu rumah di Puspa (Cibinong) menjadi sebuah outlet kecil-kecilan. Saya ada rencana mau jualan lagi, mengingat sebentar lagi kan mau lebaran.
Kata Ney sih, bisnis (dagang, jualan) itu telah menjadi semacam hobi (lainnya) buat saya. Kalau saya pikir-pikir, mungkin benar juga. Sebenarnya, kerugian karena berjualan tuh enggak saya alami sekarang ini saja, beberapa tahun lalu juga saya pernah berkali-kali berusaha punya jualan (dagangan), tapi enggak lanjut dan gagal lagi. Yah, tidak masalah, namanya juga usaha. Hehehe. ("Udahlah, Mar, nulis-nulis aja. Gak usah macem-macem." kata Ney *keplak*) Namun, yang jelas, saya sekarang harus belajar untuk lebih baik lagi. Berdagang juga butuh intuisi, pintar berstrategi, dan punya banyak modal (uang) tentunya. Hahaha. Tetap semangat, ah!
Well, perayaan ulang tahun Perpusnas sudah berakhir. Senin ini kami sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, sungguh, acara kemarin itu lumayan menghibur. Semoga perayaan ulang tahun kantor kami di tahun depan semakin meriah lagi, door price-nya lebih banyak, dan seluruh pegawai turut merasakan euforianya. Doa saya, semoga Perpustakaan Nasional senantiasa memberikan pelayanan yang optimal buat seluruh warga negara Indonesia dan bangsa ini menjadi bernilai di mata dunia berkat Perpustakaan Nasional. Hidup Perpusnas pokoknya. Hehehe.




